Masih teringat kala Jakarta terendam banjir tahun 2002 silam, mungkin waktu itu aq belum begitu paham banget situasi ibukota, jadinya ndak pernah mendapatkan informasi yang lebih banyak seperti saat ini. Benar sekali, jika melihat perbandingan banjir tahun 2002 silam dengan sekarang, nampaknya banjir sekarang lebih cepat terasa, alias air yang turun(hujan) cepat sekali menjadi banjir.
Kamis (3/2/2007) malam Jumat, hujan tak berhenti, hingga subuh. Jumat tanggal 4 Februari 2007, setelah subuh hujan kembali muncul, hingga akhirnya muncul rintik2 sewaktu aku berangkat ke kantor.
Pagi itu juga, seperti biasanya, ke kantor aq naik P 19 jurusan Tanah Abang Cilandak. Ndak pernah aq bayangkan sebelumnya, ketika memasuki daerah atmajaya (semanggi area), kemacetan dimana-mana. Bapak polisi yang mengatur lalu lintas dibuat kewalahan karena air di daerah itu sudah mencapai lutut kaki. Iya, banjir melintasi kawasan rumah sakit Jakarta, universitas atmajaya dan sekitarnya.
Akhirnya, bus yang aq tumpangi dialihkan ke jalur cepat, tambah macet dech. Tidak seperti biasanya kalau tidak banjir aq turun di kawasan bendungan hilir, hari itu aq turun di halte komdak. Aq naik 66 jurusan blok – m arah manggarai dengan asumsi menyeberang ke arah sebaliknya, nyampai kantor telat dech.
Tapi, di kantor ternyata bukan aq saja yang telat, rata-rata semua telat, bahkan banyak yang ndak masuk karena kebanjiram rumah mereka. Kegiatan di kantor waktu itu berjalan seperti biasanya, sembari ada yang ulang tahun plus makan-makan, tapi suhu dingin begitu menyengat, so harus ke belakang berkali-kali.
Jumat itu, aq pulang kantor setelah maghrib. Ini di luar rencana sebelumnya, ingin pulang sorean. Sampai di area pemberhentian bus, Subhanallah, pemandangan yang tak terbayangkan muncul, kendaraan dari arah pasar minggu (604), tidak ada yang lewat jalur lambat, semua diarahkan ke jalur cepat, lautan manusia silih berganti melintas saling berlawanan, waduh2 macetnya minta ampun. Bahkan dari arah berlawananan justru ada kendaraan boleh lewat.
Iya, carut marut lalu lintas mewarnai perjalanan aq hari itu. Sampai-sampai aq memutuskan untuk jalan kaki sampai rumah, terbayangkan ndak kalau bakalan seperti itu. Bayangin aja jarak antara kantor di daerah MH Thamrin (Jakpus) hingga Gatot Subroto (Gedung Cyber). Aq aja seperti mimpi kok ketika di jalan, ini beneran atau tidak.
Aq memutuskan jalan kaki setelah menelpon temanku yang sudah duluan pulang. Iya, temenku itu adalah mas doddy dan mas edwan yang kerja di Indosat. Beliau jalan kaki dari Gatsu hingga slipi, wuih. Hari itu, kawasan yang tidak bisa dilewati adalah di sekitar kantor PT Telkom, hingga hampir mencapai kantor pajak, air meluap masih besar. Genangan air ini nyaris sama dengan yang terjadi dengan area tendean dan sekitarnya. Air menggenang setinggi hampir seleher, subhanallah. Kawasan tendean ada di daerah mampang, transtv dan tentunya di belakang gedungku.
Dalam perjalanan pulang dengan berjalan kaki, aq sempet telanjang kaki. Saat mau menyeberang jembatan telkom yang menghubungkan dengan area SCTV. Setelah berjalan beberapa meter kemudian, baru menggunakan sandalku lagi. Sempat mampir duduk untuk mengangkat telpon dari kakakku di depan balai sarbini, perjalanan jalan kaki aq lanjutkan melewati bawah jembatan semanggi untuk melintasi jalur ke arah kota.
Heran banget saat melihat jalan protokol paling besar di Jakarta itu, jalur busway yang ke arah blok m semua dipakai kendaraan dari arah kota. Jadi yang mau ke kota hanya mendapatkan satu jalur saja. Hal ini diakibatkan adanya rendaman banjir besar di pasar bendhil lurus dengan luapan air area atmajaya yang tadi.
Sempat terbersit rasa untuk naik bus saat mencapai wilayah tosari karena kakiku sepertinya sudah sangat capek dan diselingi dengan mata memandang kea rah sungai yang sudah penuh dengan air berwarna coklat, aku akhirnya paksakan jalan kaki terus sampai kostan. Karena, ada beberapa bus yang tiba-tiba punya trayek khusus sehingga memaksaqu tidak bisa naik dan ada juga beberapa di antarnya penuh sesak dengan penumpang.
Begitulah cerita singkatnya, semoga saja di kemudian hari, hal ini tidak terjadi lagi amin. Mari kita semua berdoa.
NB:
1. air bersih di kostan susah, pam mati.
2. Kemarin hari sabtu melihat banjir di belakang gedung tifa, sudah seperti danau, rumah- rumah penduduk sudah banyak yang tidak terlihat
3.Aku sendiri pas benerin saringan udara angin di kamar, terkena paku, sampai sekarang masih sakit.