Stop Makan Sebelum Kenyang !
Thursday, July 6th, 2006Updated: Sabtu, 11 Desember 2004, 08:52 WIB
Oleh: Dr.Handrawan Nadesul, Dokter Umum
Banyak yang tanya, selain jenis makanan, apa yang salah dengan keputusan ingin menikmati sebanyak mungkin makanan?
Semakin banyak pilihan menu modern yang lezat-lezat sekarang ini, cenderung semakin besar porsi makan kita.
Namun sebuah riset menemukan, dengan porsi makan lebih rendah, harapan hidup bisa meningkat duaperlima .
Benar! Semua orang ingin menikmati hidup yang lebih panjang. Banyak upaya dicari untuk menuju ke sana. Salah satunya dari sikap makan.
Tubuh kita merupakan otobiografi dari apa yang kita makan. Rakus dan banyak makan menyimpan banyak penyakit. Sedang dengan membiasakan sedikit makan bisa merentang umur lebih panjang.
Boleh jadi banyak makan juga berarti lebih banyak racun dalam menu
masuk ke dalam tubuh. Dari dulu banyak bahan-bahan berbahaya ditemukan
dalam menu harian kita.
Kebanyakan menu modern kini kedapatan mengandung racun yang merusak
sel-sel tubuh. Baru-baru ini racun dioxin diketahui terdapat dalam
semua jenis menu berlemak, misalnya. Kini diteliti di banyak negara
bahaya dioxin dalam menu siap-saji yang dijual kepada publik. Dioxin dinyatakan WHO sebagai pencetus kanker selain merusak sistem saraf, hati, dan hormon reproduksi.
Bahaya Dioxin
-
Dua studi di Inggris menyimpulkan bahwa dioxin dan zat yang menyerupai (dioxins-like substances),
seperi PCB dan Furans masuk ke dalam makanan, tertinggi ada dalam
lemak, dan rendah dalam menu rendah lemak (sayur dan buah).
Rice-oil di Jepang dan Taiwan sudah tercemar PCB dan Furans
sejak 1960, itu yang menjadi penyebab kematian akibat kanker, infeksi
paru-paru, gangguan saraf di sana terbilang tinggi.
Setiap orang di kebanyakan negara industri, 96 persen darahnya mengandung dioxin yang mencemari menu hariannya. Es krim, dan ikan di restoran ayam goreng AS, atau contoh makanan
yang diambil dari restoran siap-saji di AS hampir semua mengandung
dioxin. Terhadap ’Pepperoni pizza’, misalnya, Badan Pengawasan Obat AS
(FDA) memonitor keju yang dipakai yang dicurigai tinggi kandungan
dioxin-nya.
Bayi dan anak paling rentan terhadap efek dioxin. Munculnya bayi
cacat lahir, gangguan belajar, dan gangguan perkembangan lain
berkorelasi dengan dioxin yang diduga berasal dari air susu ibu.
Bayi-bayi AS yang 6 bulan menyusu ASI rata-rata mengonsumsi dioxin,
sebab lemak ASI tercemar dioxin akibat konsumsi menu harian ibu sudah
tercemar dioxin. Dioxin kebanyakan masuk ke dalam menu siap-saji, daging, ikan, dan produk susu.
Dioxin itu produk sisa jika sampah berbahaya kota dibakar,
atau berasal dari zat chlorine, seperti pestisida dan produk kertas.
Sekali hewan-hewan ternak makan zat kimiawi berbahaya tersebut, racun
akan diakumulasi dalam lemak gajihnya. Manusia tercemar racun jika
mengonsumsi gajih ternak yang sudah tercemar racun tersebut.
Bukan saja di negara maju, studi dioxin juga menunjukkan hasil
positif di Vietnam, Rusia, Cina, Kamboja, dan Timur Tengah. Burung
penguin di Artartika, hujan di Asia Tenggara, sampai susu bayi di
Jerman, positif kandungan zat-zat berbahaya (synthetic chemicals).
Racun Acrylamide
-
Hal baru lainnya, bahwa keripik kentang (potato chip) dan kentang goreng, dua jenis makanan yang mulai ditakuti sekarang sebab mengandung acrylamide yang tergolong zat pencetus kanker (cancer causing-substances).
Periset Swedia menemukan dalam kebanyakan camilan dengan karbohidrat
tinggi yang dibakar atau digoreng dengan suhu tinggi bersifat pencetus
kanker (carcinogenic). Yang sama bisa berasal dari masakan tradisional.
Zat acrylamide bahan pembuat plastik dan pewarna selain pemurni air minum. Itu sebab bahaya kemasan plastik (sterofom)
untuk masakan panas (soto, bakmi, masakan Cina restoran yang dikemas
semasih panas). Dalam kentang terdapat asparagine yang jika dipanaskan
dengan suhu tinggi berubah menjadi acrylamide, sang pencetus kanker itu.
Bagi penganut Orthomolecular Medicine, banyak menu orang modern yang mengandung bahan kimia buatan (man-made chemicals),
yang sebagian besar berbahaya. Bahan kimia dalam makanan, baik yang
berbahaya maupun yang belum kedapatan berbahaya, selain merusak, juga
bisa mengganggu, dan mengacaukan fungsi sel tubuh. Sel-sel tubuh kita
merupakan ’dapur’ pengolah mesin tubuh.
Dapur mesin tubuh jadi kacau kerjanya jika dicemari berbagai bahan
berbahaya yang dibawa makanan. Selain kemungkinan kekurangan atau
kelebihan zat-zat makanan yang dibutuhkan, sel juga kewalahan menampung
cemaran dari bahan-bahan asing bagi tubuh yang dibawa oleh makanan,
antara lain oleh dioxin, acrylamide, dan racun-racun kimia lainnya dalam makanan modern.
Jangan berpikir hanya menu modern yang berisiko merusak sel tubuh kita. Di kita, jenis saus
tomat, sambal, kecap, tahu, penganan industri rumahan, baru-baru ini
(sesungguhnya sudah sejak lama ada) kedapatan memakai zat warna tekstil
(Rhodamine-B), pengawet formalin, pemanis sakarin, yang sama-sama
membahayakan kesehatan juga.
Bahkan ikan asin yang dianggap menu sederhana dan
dianggap aman pun sebetulnya mengandung nitrosamin, zat pencetus kanker
juga. Orang kecukupan yang bermenu resotran dan orang papa, kini
sama-sama memikul risiko yang sama-sama bisa tercemar bahan berbahaya
dari menu hariannya.
Stop Makan Sebelum Kenyang
-
Kembali soal makan dengan porsi lebih sedikit. Stewart
Frankel periset dari Universitas Yale (28/11/02) menyimpulkan dari
hasil temuannya terhadap berbagai kapang, cacing, serangga, dan mamalia.
Diketahui, dengan porsi makan yang lebih sedikit akan mengoptimalkan umur (life-span) 33 sampai 50 persen dibanding yang rakus makan. Diduga demikian halnya pada manusia.
Ada dua gen kunci yang menentukan umur bisa direntang lebih optimal, yakni penghasil enzim Rpd3 (Histone deacetylase),
dan Sir2. Kadar Rpd3 yang rendah dan Sir2 yang tinggi menentukan bisa
lebih optimalnya umur seseorang direntangkan. Oleh karena makan banyak
meninggikan Rpd3 yang bikin umur tidak bisa panjang optimal, maka agar
umur merentang lebih panjang kadar Rpd3 diturunkan dengan mengurangi
porsi makan.
Orang bisa tidak perlu mengurangi porsi makannya jika berhasil
menurunkan kadar enzim Rpd3. Untuk itu sedang diteliti terus hadirnya
obat yang bisa menekan enzim Rpd3 dalam badan. Kini sedang diteliti
kemungkinan Phenylbutyrate menekan enzim Rpd3, sehingga orang masih mungkin mengoptimalkan panjang umurnya, sambil masih bisa tetap rakus.
Selama obat pengoptimal umur belum ada, agar umur kita bisa
direntang optimal, pilihannya cuma satu: stop makan sebelum kenyang,
tidak lapar mata, atau punya hobi doyan ditraktir, dan kepingin makan
terus kendati tidak sedang lapar. @
sumber :