Archive for May, 2006

Merenung dan tundukkan kepalamu…..

Monday, May 29th, 2006

Jakarta, 28 Mei 2006

“Manusia memang hanya bisa berserah diri, dan segala ketentuan itu ada pada Allah SWT.”. Mari kita merenungi diri. Sudah sejauh manakah kita melangkah, sudah sejauh manakah kita memaknai arti hidup yang hanya sementara ini, Wallahualam.

Ya Allah, belum hilang dari ingatan kita semua, tsunami yang begitu dasyat telah mengguncang Aceh dan sekitarnya (Desember 2004), penyakit yang silih datang berganti menimpa rakyat Indonesia (demam berdarah, lemah lunglai, flu burung dan lainnya).

Kini, rasa pilu dan tangis harus dirasakan warga jogja dan sekitarnya Mereka semua bertarung melawan maut. Belum hilang dari tatapan mata, letupan gunung merapi yang setiap saat masih menggelegar, sekarang mereka pun harus melawan gempa bumi. Ya, gempa yang terjadi sekitar pukul 05.50 wib pada 5.9 skala ritcher, sabtu 27 Mei 2009. Ya Allah, kami telah kehilangan beberapa saudara-saudara kami.

Ya Allah, apakah ini musibah, adzab ataukah peringatan bagi kami, ataukah memang kami telah banyak melupakan-MU. Ya Allah, semoga ini jadi renungan kami untuk selalu sabar, tabah dan semakin tawakal dalam menghadapi setiap ujian dari-MU. Kami semua hanya manusia biasa yang hanya bisa berencana, terkadang pula hanya bisa mengeluh, berusaha dan berdoa. Ya Allah, Engkau yang maha memiliki rahasia itu.

Ya Allah, ampunilah dosa kami semua. Ampunilah dosa saudara-saudara kami. Semoga yang telah pergi Engkau terima di sisi-MU dan diampuni segala dosa-dosanya. Dan yang ditinggalkan diberi ketabahan, amin.

Semalam, aku sms dan menelpon beberapa temanku di Yogya. Salah satu temenku pun sempat bercerita, bahwasannya, malam ini dia tidak tidur, karena harus gentian jaga jika sewaktu-waktu gempa susulan datang lagi.Kemudian, aku pun bertanya pada temenku itu, bahwasannya salah satu temenku yang kini tinggal di daerah pegunungan (bantul), belum ketahuan kabarnya, ya Allah semoga dia baik-baik saja, amin.
Tidak hanya itu, aku juga telpon suami dari kakakku yang orang tuanya di Bantul. Sayang, beliau masih di jalan (Jember) dalam perjalanan ke Bantul, semoga dalam lindungan Allah, amin.

“Mungkin Tuhan mulai bosan dengan kita, yang terlalu bangga dengan dosa-dosa, ataukah alam mulai bosan dengan tingkah kita. Coba tanyakan pada rumput yang bergoyang.”…(Ebiet G Ade).

Peduli JOGJA :

Call JOGJA :
0274-520410
0274-587333
Kita semua harus tetap tegar..
Rasa turut berbela sungkawa atas semua korban bencana gempa bumi di Yogyakarta dan sekitarnya.

Merapi Mulai menggelegar

Tuesday, May 16th, 2006

Untitled Pengungsi Meningkat, Mbah maridjan Bertahan
MAGELANG - Gunung Merapi yang dikhawatirkan segera meletus kemarin membuat kejutan. Sekitar pukul 5.50, terdengar bunyi menggelegar diikuti luncuran awan panas (wedhus gembel) yang sangat pekat. Masyarakat panik. Padahal, dengan adanya bunyi itu, Merapi belum bisa dikatakan meletus.

Awan panas putih kehitaman terlihat dari Pos Pengamatan Merapi Babadan, Kecamatan Dukun, dan Pos Ngepos, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Awan itu juga terlihat dari sejumlah daerah rawan bencana lainnya.

Beberapa menit kemudian, terjadi hujan abu di sebagian desa di Kecamatan Dukun. Akibat tiupan angin, hujan abu juga sampai di wilayah Kecamatan Pakis serta Temanggung.

"Sebenarnya, sejak Minggu (14/5) malam warga panik. Tapi, puncaknya pagi tadi (kemarin) karena terdengar bunyi letusan yang cukup keras," ungkap Jono, warga Desa Ngablak, Srumbung.

Dia tinggal di tempat pengungsian sementara (TPS) II di Balai Desa Srumbung. "Kami masih mengupayakan agar warga bersedia mengungsi ke TPS maupun tempat pengungsian akhir (TPA) yang telah disediakan," ujar Kepala Urusan Kesra Desa Ngablak M. Subakri.

Bahaya Merapi juga dirasakan sebagian masyarakat Temanggung karena abu vulkanik dibawa angin ke arah barat. Sehingga, sebagian wilayah nyaris tertutup abu. Di antaranya, Kecamatan Tembarak, Selopampang, dan Parakan. Di tiga kecamatan tersebut, curah hujan abu cukup tinggi. Sehingga, daun tanaman di ladang petani tak terlihat hijau lagi.

"Saya khawatir daun tembakau saya rusak disiram abu berhari-hari," kata Ngatno, 40, warga Menggoro Tembarak, yang membersihkan daun-daun tembakau menggunakan sapu halus.

Sejumlah desa di Kecamatan Selo, Boyolali, juga terkena imbas. Hujan abu menerpa Desa Tologolele, Jrakah, Klakah, Lencoh, Samiran, dan Selo. Menurut sejumlah warga Desa Tlogolele, hujan abu di kawasan rawan bencana Merapi tersebut terjadi sejak Senin sekitar pukul 06.00.

Hujan turun sesaat setelah terjadi guguran lava pijar besar sekitar lima menit sebelumnya. "Setelah lava turun, langsung terjadi hujan abu hingga sekarang (siang kemarin, Red)," ungkap Kepala Desa Tlogolele Budi Harsono kemarin.

Meski aktivitas Merapi sudah mengkhawatirkan, masyarakat Kecamatan Selo masih tenang-tenang saja. Bahkan, warga Dukuh Stabelan, Desa Tlogolele, yang berjarak sekitar 3,5 kilometer dari puncak Merapi itu masih bergotong-royong membangun rumah salah seorang warga.

Kepala Dusun IV Desa Tlogolele Kirman membagikan banyak masker kepada warga. Dia juga mengajak agar warganya mau mengungsi. "Minimal ke tempat penampungan sementara (TPS) di Balai Desa Tlogolele. Tapi, saya tidak bisa memaksa," jelasnya.

Budi Harsono menyatakan, jika situasi semakin gawat, semua warga di dukuh-dukuh terdekat dengan puncak Merapi akan dievakuasi paksa. Ada dua alternatif. Yaitu, ke tempat penampungan akhir (TPA) di Kecamatan Selo atau di Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. "Evakuasi ke Sawangan dilakukan jika Kali Apu dialiri lahar," ujarnya.

Sementara itu, di Klaten, situasi semakin mencekam. Dalam sepuluh menit, terjadi dua kali letusan awan panas. Letusan itu merupakan yang terbesar pascastatus awas ditetapkan.

Dari lokasi pengamatan Deles, Kemalang, wartawan koran ini menyaksikan letusan pertama pukul 06.45 mengarah ke barat daya. Yang kedua yang lebih dahsyat terjadi pukul 06.52 mengarah ke barat (arah Magelang dan Sleman). Larinya wedhus gembel itu terlihat sangat jelas menyusuri lereng menuju hulu Sungai Krasak, Gendol, dan Boyong.

Siang kemarin, situasi semakin mencekam. Sebab, puncak Merapi sama sekali tidak terlihat karena tertutup awan tebal. Seismograf (alat pendeteksi gempa) masih terus meraung-raung yang menunjukkan aktivitas Merapi semakin tinggi. "Kami tidak bisa melihat ke mana arah luncuran. Bahaya kalau tiba-tiba meluncur ke Klaten," ujar Wahono Cece, anggota SAR Klaten yang memantau Merapi di Deles.

Mulai kemarin siang, tim SAR yang semula berada di pos pemantauan Deles ditarik ke pintu masuk kawasan wisata Deles Indah. Posisi itu tetap belum aman. Sebab, jika luncuran wedhus gembel mengarah ke Sungai Woro, lokasi pengamatan tersebut bisa diterjang. Jaraknya hanya empat kilometer dari puncak Merapi.

Menurut informasi terakhir yang dihimpun dari laporan harian Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Jogjakarta, gempa fase banyak terjadi 97 kali, gempa guguran 202 kali, dan luncuran awan panas 88 kali. (mg6/aji/dem/uui/jpnn)