Archive for July, 2005

Renungan, kepada orang tua (calon orang tua) yang sibuk bekerja

Saturday, July 9th, 2005

IMRON KECIL…………………
Seperti biasa Rudi, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka
di
Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti
biasanya,Imron,
putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu.
Ia
nampaknya sudah menunggu cukup lama.

"Kok, belum tidur?" sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron
memang
sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat
ke
kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga,
Imron
menjawab, "Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji
Ayah?" "Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?"
"Ah,
enggak. Pengen tahu aja." "Oke. Kamu boleh hitung sendiri.
Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan
setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi, gaji Ayah dalam
satu
bulan berapa, hayo?" Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari
meja
belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi.
Ketika
Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari
mengikutinya.

"Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu
jam
ayah digaji Rp 40.000,- dong," katanya. "Wah, pinter kamu. Sudah,
sekarang
cuci kaki, bobok," perintah Rudi. Tetapi Imron tak beranjak. Sambil
menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, "Ayah,
aku
boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?" "Sudah, nggak usah macam-macam
lagi.
Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu.
Tidurlah." "Tapi, Ayah…" Kesabaran Rudi habis. "Ayah bilang tidur!"
hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun berbalik menuju
kamarnya.
Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di
kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya
sedang
terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.
Sambil
berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, "Maafkan
Ayah,
Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam
begini?
Kalau mau beli mainan, besok’ kan bisa. Jangankan Rp5 000,- lebih dari
itu
pun ayah kasih." "Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku
kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama seminggu
ini."
Iya,iya, tapi buat apa?" tanya Rudi lembut. "Aku menunggu Ayah dari jam
8.
Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering
bilang
kalau waktu Ayah itu sangat berharga.Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku
buka
tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah
dibayar
Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku
kurang Rp
5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari
Ayah," kata Imron polos. Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata.
Dipeluknya
bocah kecil itu erat-erat.

sumber=mas muchid

Turut Berduka Cita

Monday, July 4th, 2005

Assalamuaaikum,
Teruntuk adik kelas saya, Eko Yudho, jasamu bagi sekolah yang paling aq ingat waktu ikut lomba bahasa Inggris….

Semoga Allah menerima seluruh amal baikmu dan dilapangkan kuburmu..amin..
Ya Allah, terimalah dia disisimu…amin

http://vivink.blogspot.com
http://subandono.blogspot.com
Wassalam

Jumat, 01 Juli 2005,

Friday, July 1st, 2005

Jumat, 01 Juli 2005,

Krl Dua KRL Tabraka JAKARTA - Tabrakan antara dua KRL (kereta rel listrik) di dekat Stasiun Pasar Minggu kemarin sore diduga kuat akibat human error. Masinis KRL 583 tidak melihat sinyal merah di depannya karena terhalang hujan deras. Akibatnya, KRL 583 menabrak KRL 585 yang berhenti di depannya. Sedikitnya, 2 penumpang KRL tewas dan 64 korban lainnya luka-luka. Kecelakaan antara dua KRL jurusan Bogor-Jakarta itu terjadi pukul 16.15 WIB. Menurut saksi mata, tabrakan maut itu bermula ketika Kereta Api (KA) Pakuan Ekspres jurusan Bogor-Jakarta berjalan lambat dan berhenti di Stasiun Pasar Minggu karena mengalami kerusakan. Tak lama kemudian, datang KRL 585 warna biru dari jurusan yang sama. KRL kelas ekonomi ini berhenti ketika melihat KA Pakuan Ekspres berhenti di depannya. Masinis KRL 585 sebelumnya melihat sinyal merah, pertanda dia harus menghentikan keretanya. Celakanya, KRL 583 yang datang belakangan terus melaju walau KRL 585 di depannya berhenti. KRL kelas ekonomi warna kuning itu langsung menyeruduk KRL 585. Semua korban tewas maupun luka-luka adalah penumpang KRL 583. Sebab, banyak penumpang di KRL 585 sudah turun atau pindah ke gerbong bagian depan sebelum terjadi kecelakaan. Lokomotif KRL 583 hanya gepeng, tapi bagian belakangnya rusak berat. Seperti terpotong akibat tekanan gerbong nomor dua di belakangnya. Di sini korban tewas bernama Nurhayati ditemukan. Kondisinya cukup mengenaskan.

SURAT CINTA UNTUK JIWA YG LELAH…TERTIDUR…DAN MULAI MATI

Friday, July 1st, 2005

Surat ini kutujukan untuk diriku sendiri serta
sahabat-sahabat tercintaku yang insya Allah tetap
mencintai Allah dan rasul-Nya diatas segalanya,
karena hanya cinta itu yang dapat mengalahkan
segalanya, cinta hakiki yang membuat manusia
melihat segalanya dari sudut pandang yang
berbeda, lebih bermakna dan indah.

Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati sahabat-
sahabat tercintaku yang kerap kali terisi oleh cinta
selain-Nya, yg mudah sekali terlena oleh indahnya
dunia, yg terkadang melakukan segalanya bukan
karena-Nya, lalu diruang hatinya yg kelam merasa
senang jika dilihat dan dipuji orang, entah dimana
keikhlasan. Maka saat merasakan kekecewaan
dan kelelahan karena hal yg dilakukan tidak
sepenuhnya berlandaskan keikhlasan, padahal
Allah tidak pernah menanyakan hasil. Dia akan
melihat kesungguhan dalam berproses.

Surat ini kutujukan pula untuk jiwaku serta jiwa
sahabat-sahabat tercintaku yang mulai lelah
menapaki jalan-Nya ketika seringkali mengeluh,
merasa terbebani bahkan terpaksa untuk
menjalankan tugas yang sangat mulia. Padahal
tiada kesakitan, kelelahan serta kepayahan yang
dirasakan oleh seorang hamba melainkan Allah
akan mengampuni dosa-dosanya.

Surat ini kutujukan untuk ruh-ku dan ruh sahabat-
sahabat tercintaku yg mulai terkikis oleh dunia yg
menipu, serta membiarkan fitrahnya tertutup oleh
maksiat yg dinikmati, lalu dimanakah kejujuran
diletakkan?? Dan kini terabaikan sudah nurani
yang bersih, saat ibadah hanyalah rutinitas belaka,
saat fisik dan fikiran disibukkan oleh dunia, saat
wajah menampakkan kebahagiaan yg semu. Coba
lihat sana! Hatimu menangis dan meranakah??!

Surat ini kutujukan untuk diriku dan diri sahabat-
sahabat tercintaku yg sombong, yg terkadang
bangga pada dirinya sendiri. Sungguh tiada
satupun yg membuat kita lebih dihadapan-Nya
selain ketakwaan. Padahal kita menyadari bahwa
tiap-tiap jiwa akan merasakan mati, namun kita
masih bergulat terus dengan kefanaan.

Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati sahabat-
sahabat tercintaku yang mulai mati, saat tiada
getar ketika asma Allah disebut, saat tiada sesal
ketika kebaikan terlewatkan begitu saja, saat tiada
rasa takut padaNya ketika maksiat dilakukan, dan
tiada merasa berdosa ketika menzhalimi diri
sendiri dan orang lain.

Akhirnya surat ini kutujukan untuk jiwa yg masih
memiliki cahaya mekipun sedikit, jangan biarkan
cahaya itu padam. Maka terus kumpulkan cahaya
itu hingga ia dapat menerangi wajah-wajah
disekeliling, memberikan keindahan Islam yang
sesungguhnya hanya dengan kekuatan dari-Nya

"Ya..Allah yang maha membolak-balikkan hati,
tetapkan hati ini pada agama-MU, pada ta’at
kepada-Mu dan da’wah dijalan-Mu"

Wallahu’alam bishowab

NB : Semoga bisa membangkitkan iman yang
sedang mati atau ‘jalan ditempat’, berdiam diri
tanpa ada sesuatu amalan-pun yang dapat
dikerjakan. Kembalikan semangat itu sahabat-
sahabat tercintaku….. ada Allah dan orang-orang
beriman yang selalu menemani dikala hati "lelah".

sumber : unknown